Pemerintah RRC Hibahkan Obat Anti Malaria Senilai 3 Milyar Kepada Indonesia

Untuk mendukung pengendalian penyakit malaria di Indonesia, hari ini, Jumat (1/2/2008) Pemerintah Republik Rakyat China menyerahkan bantuan obat anti malaria senilai 3 juta Yuan atau setara 3 milyar rupiah kepada Pemerintah Indonesia.

Bantuan obat diserahkan Minister Consellor Kedutaan RRC, Mr Fang Qiu Chen kepada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Dr I Nyoman Kandun, MPH di Kantor Ditjen P2PL Jakarta.

Bantuan obat yang diberikan berupa : 45.000 dosis artemether injeksi untuk dewasa; 87.500 dosis artemether injeksi untuk anak-anak dan 145.920 dosis Artesdiaquin. Nantinya obat anti malaria tersebut akan didistribusikan ke Puskesmas (yang berupa tablet) dan rumah sakit (berupa injeksi) yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Menurut dr. Nyoman Kandun, MPH, saat ini penyakit Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Sekitar 49,6 % atau 107.785. 000 penduduk dari 217.328.000 jumlah penduduk Indonesia, hidup di daerah risiko malaria. Dari jumlah itu, hampir 70 % kabupaten dari seluruh provinsi di Indonesia, mempunyai daerah berisiko malaria. Mengingat luasnya daerah berisiko malaria, setiap tahun ditemukan 300.000 – 400.000 kasus positif malaria. Kasus tertinggi ditemukan di Nusa Tenggara Timur (120.744 kasus), Prov. Papua (91.932 kasus), Papua Barat (34.915 kasus), sedangkan kasus terendah terdapat di DKI Jakarta, Batam, dan Bali, ujar Dirjen P2PL. Menurut Dirjen P2PL, pada tahun 1973 untuk pertama kali ditemukan kasus pertama adanya resistensi (kebal) Plasmodium falciparum terhadap klorokoin di Kalimantan Timur. Tetapi tujuh belas tahun kemudian (1990) resistensi terhadap klorokoin sudah meluas ke seluruh provinsi di Indonesia. Selain itu dilaporkan juga adanya kasus resistensi plasmodium terhadap Sulfadoksin-Pirimethamin (SP) di beberapa tempat di Indonesia. Kondisi ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit malaria. Oleh sebab itu, ujar dr. I Nyoman Kandun, untuk menanggulangi masalah resistensi, pemerintah menetapkan terapi kombinasi artemisinin (artemisinin combination therapy ) sebagai obat pilihan pengganti klorokuin dan SP sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pengobatan malaria yang dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria .Sumber: Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: